Implikasi Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 terhadap Mindset Guru dalam Proses Pembelajaran (Part 1/2)

Posted on August 11, 2014

1



By: F.X.Susanto,S.IP.,M.Pd.

 

Terlepas dari pro dan kontra, Implementasi Kurikulum 2013 dirancang selain sebagai upaya untuk memperbaiki implementasi pendidikan, juga untuk memfasilitasi peserta didik dalam menjawab tuntutan pendidikan era global abad 21. Penyelenggaraan Pendidikan abad 21 dirancang agar dapat menghasilkan generasi yang Produktif, Kreatif, Inovatif, dan Afektif melalui penguatan Sikap, Keterampilan dan Pengetahuan yang terintegrasi dengan Tujuan Pendidikan Nasional. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik terlibat secara aktif dalam mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui  lima tahapan Pengalaman Belajar Pokok  (Learning Events) yaitu :(1) Mengamati (Observe), (2) Menanya (Question), (3) Mengumpulkan Informasi (Experiment/explore),(4) Mengasosiasi (Analyze), (5) Mengkomunikasikan (Communicate), dan dapat dilanjutkan dengan kegiatan Mencipta (Create) sebagai  tindak lanjut.

Berdasarkan “21st Century Partnership Learning Framework”, terdapat beberapa kualifikasi kompetensi dan/atau keterampilan dalam pengembangan SDM abad XXI, antara lain: Critical-Thinking and Problem-Solving Skills, Communication and Collaboration Skills, Creativity and Innovation Skill, serta Information and Communications Technology Literacy. Dari pergeseran paradigma tentang kecakapan seorang guru tersebut berarti guru harus mampu mengubah dirinya dari zona nyaman dan berani memasuki zona tantangan dengan standar kompetensi global. Guru harus mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan kompetitif global, seperti: (1) Pengembangan nilai/karakter (2) Pembelajaran aktif dengan pendekatan konstruktivisme / Kreativitas) (3) Penguasaan Ilmu Pengetahuan, Science & Techology, (4) Entrepreneurship, dan (5) Leadership.

Oleh karena itu, untuk menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan “Lifelong Education dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup  bermasyarakat). Dalam mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran sudah seharusnya menguasai pendekatan, metode dan model-model pembelajaran interaktif yang memberdayakan lingkungan sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar serta penerapan ICT dalam proses pembelajaran di sekolah.

Untuk mencapai keunggulan-keunggulan tersebut, Guru tidak hanya bertindak sebagai instruktur dan membiarkan peserta didik mengkonstruksi pengetahuan sendiri, tetapi Guru berkewajiban memberikan bantuan yang diperlukan peserta didik. Dengan kata lain guru berperan sebagai manajerial pembelajaran yaitu sebagai  manajer, narasumber/fasilitator,  mengatur/mengarahkan kegiatan-kegiatan pembelajaran, mendorong, memancing pertanyaan,memberikan penjelasan/konfirmasi, dan melakukan  umpan balik.

to be continued. . .